laporan isolasi kasein
LAPORAN PRAKTIKUM MINGGUAN
BIOKIMIA I
PERCOBAAN IV
ISOLASI KASEIN

DISUSUN OLEH :
NAMA : BAIQ WULAN DAYANTI
NIM :
E1M015016
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017
A.
ABSTRAK
Susu
merupakan minuman bergizi tinggi yang dihasilkan ternak perah menyusui, seperti sapi perah, kambing perah,
atau bahkan kerbau perah. Pada susu juga
terkandung zat-zat gizi yang berperan dalam pembentukan tulang seperti
protein, fosfor, vitamin D, vitamin C
dan besi. Selain zat-zat gizi tersebut, susu juga masih mengandung zat-zat gizi penting lainnya yang dapat
meningkatkan status gizi.Maka dari itu dilakukan praktikum yang bertujuan untuk
mengisolasi kasein yang bertujuan untuk mengisolasi kasein dari susu non fat
juga untuk mengisolasi laktalbumin dari susu non fat. Hasil dari percobaan ini
didapat bahwa kandungan kasein lebih banyak daripada laktalbumin yang terdapat
dalam susu non fat.
Keyword : kasein, laktalbumin, susu
B.
PENDAHULUAN
Susu adalah salah satu minuman yang bergizi tinggi
dan banyak manfaatnya bagi tubuh. Susu yang ada dipasaran dihasilkan dari ternak perah
menyusui, seperti sapi perah, kambing, kuda bahkan kerbau. Pada umumnya
susu terdiri atas 3 komponen utama yaitu protein, lemak dan laktosa , ditambah
mineral dan vitamin . Didalam susu juga
terdapat zat-zat gizi yang sangat
penting untuk pertumbuhan atau pembentukan tulang seperti protein,
fosfor, kalsium, dan zat besi. Agar bisa
di konsumsi dalam jangka waktu lama, dilakukan proses pengawetan. Proses
pengawetan susu umumnya dilakukan dengan cara pasteurisasi (Ningsih : 2014). susu
cair maupun susu bubuk identik dengan warna putih hal ini sejalan dengan
pernyataan (Mellyana : 2014) warna susu berkisar antara putih kebiruan sampai
kuning keemasan. Warna putih susu berasal dari cahaya yang direfleksikan oleh
globula-globula lemak, partikel koloidal kasein dan kalsium fosfat yang
tersebar dalam susu. Susu memiliki rasa manis hal ini dikarena terdapat senyawa
laktosa pada susu,berdasarkan literatur yang saya baca bahwaLaktosa terdiri
dari dua macam gula sederhana yaitu lukosa dan galaktosa. Adanya laktosa pada
susu menyebabkan susu mempunyai rasa manis
( Mahardika dkk : 2015).
Pada prinsipnya susu segar
memiliki pH netral, Tingkat keasaman susu menurun karena fermentasi laktose
menjadi asam laktat oleh mikroba hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh (Diastari : 2013) bahwa Hasil uji tingkat keasaman (pH) susu
yang diperiksa seluruhnya memiliki pH 7. Normalnya pH pada susu dapat
disebabkan karena adanya kasein, buffer, fosfat, dan sitrat. Dalam keadaan
murni, kasein berwarna putih seperti salju, tidak berbau, dan tidak mempunyai
rasa yang khas. Kasein murni tidak larut dalam air dingin dan garam netral. Protein
yang terkandung pada susu
ialah kasein dan
whey. Kasein merupakan komponen
protein terbesar pada susu yang dimana
kadarnya mencapai 80% .
Kasein digunakan untuk sumber
protein dalam tubuh. Sebagai suplai asam-asam amino essential. Secara komersial
digunakan untuk bahan perekat, pelindung lapisan kertas, dan plastik kasein. Kasein
dapat diendapkan oleh asam, enzim rennet, dan alkohol. Selain penambahan asam,
pengendapan kasein susu juga dilakukan dengan penambahan renin, yaitu suatu
enzim proteolitik yang diperoleh dari induk sapi betina. oleh karena itu, susu
dapat dikoagulasikan (digumpalkan) oleh asam yang terbentuk di dalam susu
sebagai aktivitas dari mikroba. Protein susu terdiri atas dua kelompok protein
utama yakni kasein dan whey.
Protein
whey disusun oleh á-Laktalbumin, â-Laktoglobulin, Immunoglobulin, Serum
Albumin, Laktoferin, dan Laktoperoksidase . Laktalbumin terdiri atas kelompok-
kelompok pretein tertentu yang mempunyai sifat kimia dan fisik yang hamper
bersamaan. Protein itu yaitu beta laktoglobulin, alpha laktaglobulin, dan
albumin. Seperti kasein, protein ini merupakan koloid dalam susu, bedanya
dengan kasein adalah laktalglobulin mudah mengendap jika dipanaskan, tapi tidak
menggumpal oleh rennin dan asam- asam, juga tidak mengandung fosfor namun
mengandung sulfur yang terdapat dalam asam amino systein, serta sangat banyak
mengandung tryptophan. Meskipun jumlahnya sedikit dalam susu, namun laktalbumin
penting dari segi nutrisi merupakan komplemen dari kasein (Copriady dkk : 2011). Tujuan dari praktikum
ini adalah untuk mengisolasi kasein dan mengisolasi laktalbumin dari susu non
fat.
C.
ALAT
DAN BAHAN
1.
Alat
Alat yang digunaan
dalam praktikum kali ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, rak tabung reaksi,
neraca analitik, spatula, gelas kimia, hotplate, penjepit kayu, crong, batang
pengaduk, stopwatch, statif, termometer, cawan petri, gelas ukur.
2.
Bahan
Bahan yang digunakan
dalam praktikum kali ini adalah kertas saring, serbuk susu non fat, air, asam
asetat 10 %, serbuk natrium karbonat, tissue, aluminum foil.
D.
PROSEDUR
KERJA
1. Isolasi kasein
a.
Ditimbang gelas kimia kosong dalam neraca analitik lalu
dicatat berat gelas kimia yang didapat.
b.
Ditimbang
4 gram susu bubuk lalu dimasukan dalam gelas kimia yang sudah ditimbang.
c.
Ditambahkan 42 ml air kedalam gelas
kimia yang berisi susu bubuk tersebut, lalu ditimbang kembali berat gelas kima
beserta larutan.
d.
Dipanaskan sambil diaduk hingga suhu
40˚C, kemudian diangkat dari hotplate.
e.
Ditambahkan 1-3 ml asam asetat 10% aduk
sampai terbentuk endapan, amti proses yang terjadi.
f.
Ditimbang kertas saring.
g.
Dilakukan proses penyaring larutan
campuran, kemudian endapan kasein yang didapat dikeringkan pada suhu ruangan.
h.
Ditimbang berat kertas saring beserta
endapan yang diperoleh.
i.
Dicatat hasil penimbangan yang di dapat
dalam tabel hasil pengamatan.
2.
Isolasi laktalbumin
a.
Ditimbang 0,6 gram serbuk natrium
karbonat, kemudian dimasukan kedalam gelas kimia berisi whey (filtrat larutan
dari penyaringan endapan kasein)
b.
Dipanaskan whey pada suhu 75˚C selama
lima menit sambil diaduk.
c.
Ditimbang kertas saring pada neraca
analitik.
d.
Dilakukan proses penyaringan larutan,
kemudian endapan laktalbumin yang didapat dikeringkan pada suhu ruangan.
e.
Ditimbang berat kertas saring beserta
endapan yang didapat.
f.
Dicatat hasil pengamatan dan penimbangan
pada tabel hasil pengamatan.
E.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
a. Persamaan reaksi
- Isolasi Kasein
b. Perhitungan
Tabel
1. MassaYang Dihasilkan Hasil Praktikum
|
No
|
Uraian Hasil Praktikum
|
Massa (gr)
|
|
1
|
Berat susu
|
4.036
|
|
2
|
Berat gelas
kimia
|
101.44
|
|
3
|
Berat gelas
kimia + susu
|
(4.036 + 101.44) = 105.476
|
|
4
|
Berat gelas
kimia + susu + aquades
|
145.93
|
|
5
|
Berat susu +
aquadest
|
(145.93 - 101.44) = 44.49
|
|
6
|
Berat kertas
saring I
|
1.14
|
|
7
|
Berat kertas
saring II
|
1.064
|
|
8
|
Berat kertas
saring + kasein
|
3.3181
|
|
9
|
Berat kertas
saring + laktalbumin
|
1.7282
|
|
10
|
Berat kasein
isolasi
|
2.1781
|
|
11
|
Berat
laktalbumin isolasi
|
0.6642
|
|
12
|
Berat
total
|
(2.1781 + 0.6642) = 2.8423
|
·
Massa protein dalam sampel =
x 100%
=
x 100%
=
0.06389 x 100%
= 6.389%
·
% Kasein dalam sampel =
x 100 %
=
x 100%
= 0.76632 x 100%
= 76.632%
·
% Laktalbumin dalam sampel =
x 100%
=
x 100%
= 0.23368 x 100%
= 23.368%
2. Pembahasan
Praktikum kali ini adalah tentang isolasi kasein pada
susu non fat. Ada berbagai metode dalam isolasi komponen dalam susu
salah satunya adalah kromatografi atau dapat dengan metode yang lain untuk
mengisolasi whey, yaitu High Performance Liquid Chromatography (HPLC)
sebagai metode yang cepat dan sensitif untuk memantau komponen whey dalam susu
atau dengan metode lowry seperti penelitian yang dilakukan oleh (Copriady dkk :
2011).
Pada
praktikum ini metode yang digunakan adalah metode pengendapan dengan cara
pemanasan. Susu yang digunakan pad percobaan ini adalah jenis susu bubuk no fat
atau susu skim. Menurut literatur (Anna : 2012) Komposisi protein yang ada
dalam susu skim adalah 35,6 g tiap 100 gram susu bubuk. Untuk mendapatkan
kasein yang terdapat dalam susu dilakuka proses pemanasan untuk
memepercepat proses pelarutan dan fungsi
asam asetat 10% pada reaksi ini adalahh untuk pengubahan pH sehingga
dapat mengendap. Standar temperatur pemanasan yang digunakan adalah sampai 40oC
dan diasamkan sampai pH 4,6 hal ini dikarnakan bahwa titik isoletrik kasein
dimana muatannya netral sehingga kelarutannya paling kecil dan menyebabkan
kasein menggumpal dan mudah dipisahkan dengan zat lain. Kasein yang diperoleh
dari dalam susu bubuk berwarna putih. Hal ini sudah sesuai dengan literatur
(Mahardika dkk :2015) dari data hasil percobaan
didapat kadar kasein sebesar
0.76632 gram dalam 4 gram bubuk susu atau sekitar 76.632% .
Percobaan
kedua ialah isolasi laktalbumin dengan menggunakan larutan whey yang ditambahkan
dengan natrium karbonat agar larutan tersebut netral. Natrium karbonat bersifat
asam, sehingga larutan whey yang tadi yang bersifat basa setelah pengambilan
endapan kasein menjadi netral. Dilakukannya pemanasan kembali pada larutan
tersebut yang dikarnakan laktalbumin memiliki kelarutan yang rendah pada suhu
tinggi, sehingga dipanaskan pada suhu 75oC selama 5 menit. Kadar laktalbumin yang didapatkan 0.23368 gram
atau 23.368%% dengan warna laktalbumin yang didapat ialah kuning pucat.
F. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat
disimpulkan bahwa isolasi kasein dapat dilakukan dengan pemanasan dan
penambahan asam asetat pada larutan tersebut sehingga akan terjadi pengendapan
pada larutan dan penambahan natrium karbonat pada isolasi laktalbumin. Dilakukannya
pemanasan yang berbeda dikarnakan kelarutan untuk kasein dan laktalbumin yang
berbeda pada suhu tertentu dimana kasein kelarutanya rendah pada suhu rendah
sedangkan untuk whey kelarutannya rendah pada suhu tinggi. Walapun dalam susu
kadar whey sangat rendah tetapi tetap sangat penting untuk kebutuhan tubuh.
G.
DAFTAR
PUSTAKA
Anna,
P., Titin, S. (2012) Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.
Copriady, J., Azmi,. Johni, M.
(2011) . Isolasi Karakterisasi dan Penentuan Kadar Laktalbumin Susu Sapi Fries Holdstein dengan Metode Lowry . Jurnal Natur
Indonesia 13(2) : 134-137.
Diastari,
I, G,A,F., Kadek, K, A.(2013) uji
organoleptik dan tingkat keasaman susu sapi
kemasan yang dijual di pasar tradisional kota denpasar. Jurnal Indonesia Medicus Veterinus 2(4) : 453 – 460.
Mahardika, H, A., Pratiwi, T., Puguh, S.(2016)
Pengaruh suhu air pencucian kambing dan teat dipping terhadap Jumlah
produksi, kualitas dan jumlah sel somatik susu pada sapi Peranakan friesian
holstein. Buletin Peternakan 1.(40): 11-20.
Mellyana, N.,Sentosa, G., zulkifli, l.(2014)
pengaruh konsentrasi susu sapi segar dan
konsentrasi Dekstrin terhadap mutu minuman cokelat instan. Jurnal Rekayasa Pangan dan Perternakan 3.(2):
54-61.
Ningsih, M., Setyawati, T,R., Mukarlina. (2014). Kualitas
Susu Cair Pasca Pasteurisasi Setelah Penambahan Sirup Oligofruktosa Umbi Talas
Kimpul (Xanthosoma
sagittifolium Schott.). Jurnal
Protobiont. 2.(3) : 93 – 99.
Komentar
Posting Komentar