Inget Dibaca


﷽

 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

Suci Cintanya

Jurnal baiq, 5 Desember 2021

        

         Lanjut kebagian kedua dan ketiga dari buku Perfect Muslimah.

 

Yuk dicoba

“Rahasia terbesar pembuka pintu jodoh adalah senantiasa berbuat baik. Cukup. Hanya itu” – Rifa’i Rif’an

“Saudariku, sungguh, inilah rahasia tak terbantah itu. Setialah pada kebaikan yang Anda yakini. Pastikan, Anda berbuat baik sesuai dengan hati nurani yang Anda percaya”.

Janganlah risau jika yang mendekat ternyata sedikit. Karena orang yang tertarik dengan orang baik, adalah mereka yang telah dikaruniai Tuhan  mata hati yang peka dengan kebaikan. Artinya, beberapa yang mendekati Anda itulah yang mampu memandang cahaya kemuliaan dalam diri Anda. Mereka adalah finalis yang sudah diseleksi oleh Allah untuk menjadi pendamping Anda kelak.”

Setelah membaca ini hati saya merasa tenang. Dari dulu sampai sekarang saya belum pernah dekat dengan lelaki, bahkan setelah kuliah pun belum ada lelaki yang mendekat. Sampai saya pernah pada titik “apakah gue sikah sebelum usia 30 tahun?” ya Allah, astagfirulah. Tapi sekarang saya bertekad untuk terus dan terus menjadi baik dan lebuh baik lagi sebab “Cuma orang yang dikasi mata hati yang peka dengan kebaikan yang akan mampi melihat kebaikan-kebaikan dari orang  lain”

“menanti jodoh, rizeki, kematian, bukan dengan diam pasrah menunggu. Nantilah dengan berprilaku yang baik, berprasangka yang baik, dengan memohon yang baik. Tuhan hanya menjodohkan manusi dengan yang tepat baginya.

 

 

 

 

Ngefans Banget!

Ya, kata ini yang selalu ada dipikiran saya setiap mendengar dan melihat nama sayyidah Fhatimah az zahra. Beliau adalah role model saya sebagi seorang anak, seorang istri dan seorang ibu.

Kemudian ada kutipan dari buku ini yang saya suka “Segera Fhatimahkan dirimu agar Allah meng-Ali-kan jodohmu. Khadijahkan dirimu, agar Allah me-Muhammad-kan kekasihmu.” Dulu pernah denger ceramah Ust. Khalid Baslamah “kalau kamu berbuat dosa, maka jodohmu mungkin sedang futur atau sedang lemah imannya. Saat kamu sedang  berjuang memperbaiki ibadah dan memperbaiki diri maka diluar sana jodohmu juga sedang melakukan hal yang sama”

 

Orang Biasa

“Oranag biasa tetapi melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Itu yang lebih  kita butuhkan dibanding orang-orang  yang kelihatannya besar, tapi hanya mampu melakukan pekerjaan yang remeh.

Kehidupan The perfect muslimah bukan untuk dikagumi, tapi untuk diteladani. Bukan untuk disanjung-sanjung, tapi untuk dihikmahi. Bukan untuk dipuji-puji, tapi untuk dijadikan pedoman untuk menggapai kualitas pribadi yang makin berkembang dari pribadi yang makin berkembang dari waktu ke waktu.”

 

 Dasar Numpang Lewat

Coba kita tanyakan kepada hati kita yang paling dalam, “mengapa kita hidup begini-begini saja? hidup kita ini untuk apasih?” kehidupan yang telah kita jalani di dunia ini apakah sekedar bergerak, bernafas, berkembang biak dan beradaptasi seperti yang tertera di buku biologi tentang ciri-ciri makhluk hidup. Sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini, lalu apa pilihan yang pernah kita lakukan, yang kita bela-belain kerjakan demi akhirat?. Konstribusi apa yang telah kita berikan untuk lingkungan kita? Aahh rasanya masih banyak sekali yang belum saya lakukan, masih begini-begini saja. padahal saya tidak ingin mati kemudian dilupakan setelh satu, dua hari, sangat cepat dilupakan karena tak pernah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

“ada sekelompok orang yang merelakan hidupnya hanya terabai dalam lembar sejarah, tapi ada pula yang menoreh prestasi dan kontribusi besar sehingga dunia merasakan kemanfataanya. Ada yang hidupnya berlomba-lomba menebar manfaat.

Hidup memang bermula dengan ‘B’ (Birth) dan berakhir dengan ‘D’ (Death). Dan yang harus senantiasa teringat, bahwa antara ‘B’ dan ‘D’ ada ‘C’ (Choice). Hidup adalah pilihan. Mau jadi pahlawan atau pecundang. Numpang lewat atau menebar manfaat. Mau jadi juara atau biasa-biasa aja.

Hidup di dunia hanya sekali. Pilihlah hidup yang penuh arti. Yang penuh prestasi dan kontribusi. Yang jasadnya mati tapi namanya atetap abadi. Yang hidupnya mulia, matinya dikenang sejarah. Yang di dunia bahagia, di akhirat meraih surga. Yang di dunia dicintai manusia, di akhirat hidup bersama ridha Allah” setelah menulis ini saya kepikiran bagaiman jika nanti kalau saya mati, membayangkan seseorang di tahun 2050 atau 2100 membaca postingan saya ini. Sedangkan saya sudah berada di alam barzah.

 

Perempuan yang Menulis

Saat saya pertama kali membaca bagian ini, saya menjadi ingin menulis, ingin curhat lewat tulisan. Mungkin kalian juga begitu, coba baca baik-baik ya “Kenapa Kartini bisa dikenang sebagai Pahlawan? Tidak seperti Cut Nyak Dien atau pahlawan lain yang turun  langsung ke medan perang. Kartini dikenang karena suka curhat. He.. he.. nggak asal curhat, tapi curhat yang dituliskan. Dia suka nulis surat yang isinya curhat kepada teman-temannya di belanda. Buku, Hbis gelap terbitlah terang, yang akhirnya mengabadikan nama beliau.”

Kira-kira kalau saya buat “Habis Gelap Terbitlah terang” versi saya bisa nggak? Kan yang penting curhat wkwkwk

“ada banyak alasan kenapa kita harus menyediakan waktu buat nulis. Salah satunya adalah untuk menerbangkan ide yang ada di kepala kita, agar menebar. Agar bermanfaat bbagi banyak orang. Kalau ide Cuma dipikirin, ide bakal hilang ditelan oleh pikiran-pikiran lain. Karena setiap saat pasti akan ada pikiran-pikiran baru. Untuk mengikat pikiran dan ilmu yang hadi kata sayyidina Ali adalah dengan menuliskannya.”

Sebenernya saya punya suatu jurus menghilangkan rasa marah dan rasa sedih saya, yakni dengan menulis diatas kertas, saya melampiaskan semua yang saya rasakan dan semua yang saya ingin katakan di dalam tulisan, saya juga nulis curhatan ke Allah kenapa saya marah, sedih dan frustasi. Lalu setelah itu saya buat  jadi perahu kertas, kadang saya simpen biar saya inget pernah diposisi itu dan saya mampu melaluinya, kadang kalau itu terlalu sakit, saya buang bersama dengan rasa sakit hati saya biar ga keinget terus. Enak pokoknya nulis kayak ngadu ke Allah mkanya sampe sekarag jadi candu.

 

 

 

 

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

makna kemerdekaan